• Sudut Pandang,  Told

    Dialektik

    Pulang dari perjalanan ini rasanya kepala saya penuh, sehingga (merasa) harus (segera) menuangkannya, maka saya coba menulis apa yang  memenuhi isi kepala saya hari ini.

     

    Papan

    Perjalanan dimulai dari main ke #RAHouse. Saya termasuk taat melihat postingan-postingan Mba Atit di Instagram, sehingga saat ada kesempatan untuk main ke rumahnya sangat excited. Saya tidak akan membahas design rumahnya karena setiap sudut rasanya punya alasan, tujuan, dan cerita. Ada 3 hal yang membuat acara main ke RAHouse sangat berkesan buat saya antara lain tentang memaknai rasa cukup, setiap orang berhak untuk menerapkan aturan main untuk dirinya tetapi bukan berarti aturan main tersebut yang paling benar dan boleh dipaksakan pada orang lain, dan terakhir adalah saat ada yg bertanya “kenapa tangganya tidak diberi pegangan? apa tidak bahaya?”. Pertanyaan tersebut mengusik saya karena mengingatkan akan suatu tedtalks yang mendiskusikan bahwa anak-anak pun memiliki mekanisme adaptasi dan belajar termasuk menghadapi bahaya bisa dilihat di sini. Selain itu hal tersebut juga mengingatkan saya pada ted talks yang membahas mengenai bentuk bangunan yang mengubah perilaku manusia. Saya bukan dalam kapasitas membahas hal tersebut tapi rasanya mendesign rumah sangat penting mengingat hal tersebut dapat memengaruhi perilaku dan interaksi sosial dari manusia yang hidup didalamnya.

     

    Pangan

    Beberapa hari yang lalu saya mengobrol dengan beberapa teman saya mendiskusikan “mimpi menjadi petani di sukabumi”, kemudian hari ini berkesempatan belajar tentang permakultur di Kebun Kumara. Selain teknik penyemaian juga diskusi soal tanaman, diskusi yang membekas untuk saya adalah definisi dari social enterprise. Orientasi soscial enterprise tidak hanya profit namun juga impact yang terukur. Hal ini mengingatkan saya akan diskusi saya dengan salah satu sahabat tentang sociopreneur yang menjamur. Pada saat itu saya berpendapat social enterprise yang bukan orientasi profit itu bukan bisnis yang sustainable mengingat dia akan kesulitan untuk mendapatkan profit karena profitnya digunakan untuk impact-nya. Hari ini Kebun Kumara menjawab pertanyaan saya. Baik profit maupun impact harus accountable, profit harus dipastikan agar bisnis tetap dapat sustain sedangkan impact harus bisa diukur (jika tidak bisa diukur ya namanya bisnis biasa). Gimana sih cara ngukur impact aka externalities dari suatu bisnis? Untuk Kebun Kumara mereka mengukur dari impact yang diberikan terhadap perbaikan bagi lingkungan sekitar , dengan bertambahnya lahan hijau dan tidak menggunakan “-sida” yang merusak alam , dan ilmu yang dibagikan pada orang-orang yang “main” ke Kebun Kumara.

     

    Sandang

    Saya baru tahu ternyata fashion industry itu penyumbang terbesar kedua perusak alam setelah oil n gas, kata seorang teman. Ini mengingatkan saya akan film tentang industri pakaian yang menggunakan buruh murah dan tempat yang sempit dan tidak layak ini nih filmnya. Yang menarik dari belajar tentang sandang bersama osem (fashion line yang menggunakan pewarna alami) ini adalah teknik shibori tuh perlu “beyond imagination” kayak level lebi advance bangun ruang wkwk (otak gw aja sih yang ga nyampe). Soalnya cara melipat memengaruhi motif yang dihasilkan. Tapi sebenernya lipet ato jepit asal aja juga ntar surprisingly baguuuus aja hasilnya.

     

    Sadar

    Kayanya acara main yang paling bikin pusing tuh disini deh hahah. Awalnya mikir LabTanya tuh semacam komunitas-ngurangin-sampah. Tetooot salah wkwk ini beyoooond that. Asli tapi ini diskusi yang sangat menarik sih menurut saya. Saya jadi tau tentang dialektik yaitu menurut kbbi daring adalah “seni berpikir secara teratur logis dan teliti yang diawali dengan tesis, antitesis, dan sintesis”, sehingga tidak terobsesi untuk nyari mana yang paling bener tanpa menganalisa atau mereferens. Kadang kita terbiasa terobsesi untuk mendapat jawaban final hal ini juga karena tidak sabar menganalisa dalam memahami kompleksitas. LabTanya mencoba menguji asumsi-asumsi untuk membuat “realita baru” (bingung ga? kujuga pusing diskusi minggu sorenya kok berat). Contohnya mereka mencoba mengajak warga mencoba hidup tanpa tempat sampah. Asumsi yang digunakan adalah orang sering nyampah karena ada tempatnya yaitu tempat sampah. Premisnya adalah jika tidak ada tempat sampah orang akan mengurangi/sadar kalo mau nyampah. Nah setelah dicoba beberapa orang di Bintaro sana, ternyata emang terjadi pengurangan produksi sampah karena orang “terpaksa mikir” mau ditaro dimana sampahnya. Nah pengurangan sampah ini tuh “realita baru”-nya. Ada banyak banget sih yang didiskusikan, ini mungkin kalo saya analogikan kayak behavioral economics di ranah arsitektur kali yha? Gimana realita eksisting yang kita percayai itu baru bisa dipahami kalo diuji sama asumsi. Contohnya kayak yang Dan Ariely bahas dibukunya, tentang experiment soal pemberian bantuan. Temuannya adalah orang lebih banyak ngasi sumbangan pada “seorang gadis kecil namanya ABC umur XX tahun yang menderita busung lapar” daripada “kelaparan di Afrika”. Dari hasil penelitian dan social experiment itu terlihat bahwa orang lebih banyak ngasih sumbangan kalo “korban” itu lebih “relatable”. Hasil penelitian tersebut bisa diaplikasikan sebenernya untuk secara ga langsung “nge-hack” pikiran kita, misalnya untuk membuat orang aware akan hal yang abstrak seperti climate change harus dibuat cerita yang lebih personal agar orang lebih mudah relate.

  • Told

    September Playlist: Merasa dan Mendengar

    Banyak sekali hal yang ingin saya tuliskan namun rasanya sulit menuangkannya. Rasanya saya kurang membaca diluar twit orang ataupun caption instagram maupun chat dan email. Rasanya kepala terlalu occupied juga waktu tersita hilang entah kemana. Saya mencoba kembali merasa dan mendengar. Merasa dalam arti mengecap, merasakan waktu, menikmati perasaan baik itu senang, riang, tergelak, sedih, malu, marah, kesal, maupun jenis-jenis emosi lainnya. Belajar mendengar juga lebih sulit menurut saya karena belakangan saya terbiasa mendengar untuk menjawab, padahal tidak semua membutuhkan jawaban atau tidak betul-betul mendengarkan.

    Sudah bulan September yang berarti 2018 tinggal 3++ bulan lagi. Semoga sisa-sisa waktu di 2018 ini bisa saya manfaatkan dengan baik untuk menunaikan ambisi sembari belajar untuk merasa dan mendengar!

    Here have some, beberapa tembang untuk menemani Merasa & Mendengar:

  • Told

    Hadir

    Mungkin kamu berpikir mereka tak terlalu peduli, tapi sesungguhnya mereka mengamati, mereka peduli, dan mereka menyimpannya dalam ingatan.

     

    Hari ini saya tidak masuk kantor. Sakit. Sudah lama saya tidak sakit-yang-membuat-tidak-mampu-berangkat-ke-kantor. Jarang sekali saya sakit seperti ini. Biasanya masih bisa tetap berangkat dan biasanya lupa kalo sakit dan baru berasa sakit lagi setelah pulang hehe. Pagi tadi saya terbangun pukul 4 dengan urgensi untuk memuntahkan isi perut. Dan berulang untuk ketiga kalinya. Saya tahu saya tidak akan mampu berangkat sehingga saya memberi pesan mohon izin kepada atasan dan tim saya.

    Pagi berselang saya tidak mengindahkan ponsel. Meringkuk kesakitan. Selepas siang, baru terkumpul sisa-sisa kekuatan untuk pergi ke dokter, setidaknya saya akan dapat obat dan surat izin. Menunggu dokter dan menunggu obat sendirian terasa menyedihkan. Saya membuka ponsel. Ternyata teman-teman mengirimkan ucapan semoga lekas sembuh. Beberapa bahkan menanyakan update kondisi saya. Saya tersadar bahwa saya tidak sendirian, banyak yang masih peduli. Perasaan yang sama setiap ulang tahun, rasanya bersyukur sekali menerima kasih. Kadang kita tidak sadar, small gesture can go a long way.

    Saya jadi teringat suatu hari saya bertemu dengan ibu dari junior saya saat SD. Bayangkan ibu dari junior saat masih sekolah dasar. Beliau menegur saya saat saya menemani ibu saya berbelanja. Yang membuat saya terkesima adalah katanya anaknya sering membicarakan saya. Beliau mengucapkan terimakasih sudah hadir untuk memberi tahu apa yang harus dilakukan saat menstruasi, memberi tahu dimana tempat membeli miniset, sudah hadir buat anaknya di masa-masa perceraian orang tuanya.

    Saya ingin berucap kepada semua yang peduli dan mengasihi saya hingga saat ini; terima kasih telah (dan selalu) hadir.

  • Told

    overjoyed

    i didnt see that coming, but yea i forgot how reality bites.

    postingan ini ga akan seperti tulisan tulisan biasanya karena sudah lama tidak menulis.

    “kalo buka hati pelan-pelan, Han” sekitar 3 tahun lalu rasanya saya mendengar petuah teman saya di warung mie ayam malam itu. And I did. Saya menyelipkan logika disetiap sesap. Saya mempertanyakan setiap cecap. Saya menahan diri namun memberi rasa perlahan.

    Entahlah, mungkin saya yang terlalu bodoh sehingga logika, pertanyaan, dan pertahanan diri tidak membendung ketulusan yang mengalir. Teman saya yang lain pernah berkata “apa yang dari hati pasti sampai ke hati, Han” bukan, bukan di warung mie ayam malam itu, namun petuah itu juga masih relevan rasanya. Entahlah mungkin pretensimu yang terlalu tinggi hingga aliran tersebut tidak sampai.

    “how come he could do that effortlessly?” one of my friend asked me a day ago. Menurut saya jawabannya terletak di ujung langit wkwk gadeng gaperlu kesana dengan seorang anak, intinya menurut saya adalah bagaimana dia bisa relevan. Bagaimana dia bisa tahu untuk meletakkan gula pada titik ujung lidah bukan di pangkal, bagaimana dia bisa tahu untuk memberi sentuhan diantara lebam hingga timbul meringis, bagaimana dia bisa menyelipkan aroma pada kelindan udara yang transparan. 

    Oh maaf kenapa tulisan ini berujung halu seperti biasanya ya?

    Yah sudahlah, saya berusaha pemahaman ini tidak menjadi dasar untuk bersikap tidak adil sejak di pikiran. Saya berusaha bertindak mengikuti bahasa yang engkau tuturkan. Saya berusaha selalu jujur pada setiap.

  • Metafora,  Told

    Kinasih

    Kasih ada di gelas teh panas di pagi hari yang dibuat setelah semalam bertengkar hingga piring pecah dan ditutup dengan derungan vespa keluar rumah

     

    Kasih ada di derap langkah bergegas menjawab dentingan bel untuk mengganti popok yang bau disaat ada pilihan untuk abai

    Kasih ada di suara yang bergetar menekan ego untuk tidak pecah setelah pipi memerah terluka

    Kasih ada di sayang yang dipelukkan pada tangis

    Kasih ada di kabar yang ditanyakan pada dinginnya ketidakpedulian

    Kasih ada di waktu menahun dalam kompromi

    saya tidak paham cinta, namun tahu letak kasih.

  • Keresahan,  Told

    Log #1: Doing Dreadful Duties

    Dreaded to do something? Rasanya setiap dari kita pasti pernah, yah setidaknya saya sering. Dari hal-hal sepele seperti menanyakan sesuatu yang sensitif, membalas beberapa pesan (ups), mengerjakan tugas yang sepertinya sulit, memasuki kelas baru, memijak hati hari di tempat kerja yang baru hingga sesuatu yang materiil seperti pertama kali akan melakukan sebuah tanggung jawab, setiap akan menjalankan kesempatan baru, juga pada setiap kepercayaan yang diberikan.

    Kadang perasaan tersebut bisa membawa kita agar lebih bersiap namun bisa jadi berujung hal-hal negatif seperti penundaan (yang juga berarti mengabaikan masalah) dan underestimate kemampuan diri sendiri. Currently, saya sedang mengambil kelas online yang salah satunya menuntut untuk belajar bahasa pemograman. Kami diberi waktu seminggu untuk mengerjakan tugas. Saya takut sekali akan mencoba mengerjakan part tersebut, takut tidak mampu hehe. Sehingga saya mengerjakan part lain hingga akhirnya mau tidak mau harus menghadapi dan menyelesaikan part tersebut. Akhirnya saya berkutat seharian untuk menyelesaikan tugas tersebut yang memang susah tapi ternyata kenyataannya: saya tidak se-“tidak mampu” yang saya bayangkan. Adapun bagian yang saya salah kerjakan menjadi pembelajaran yang lebih nyaho “ngena”.

    Cerita lain yang selalu saya ingat adalah pertama kali saya mendapat tanggungjawab menuliskan analisis untuk suatu kondisi pasar di kantor magang saya dulu. Pada saat kami training saya sudah merasa itu cukup sulit, sehingga jika ada teman atau senior yang akan mengerjakan saya dengan senang hati akan mengerjakan yang lain. Pada saatnya tiba saya mempersiapkan diri dengan mencoba membuat yang saya bisa. Saya tidak bertanya pada senior maupun supervisor saya karena merasa cukup. Keesokannya pekerjaan saya diperiksa supervisor saya. Ia tidak marah, namun sangat kecewa. Saya? Malu saja tidak cukup menggambarkan perasaan saya waktu itu. Senior dan supervisor saya harus melakukan kinerja ekstra hari itu sebagai backup. Kemudian saya bertekad untuk bisa melakukan tugas tersebut (harus lebih tepatnya). Karena saya tidak sepintar itu sehingga saya sadar butuh waktu dan effort lebih. Saya meluangkan waktu setiap tutup pasar which is berat karena waktu tutup yang berbeda (selepas petang, tengah malam, dan pagi buta). Awalnya berat, lambat laun saya menemukan ritmenya. Akhirnya supervisor tersebut mengapresiasi effort saya. Saking senangnya diapresiasi saya menambahkan informasi-informasi pendukung lainnya lengkap dengan sumbernya. Anehnya tidak terasa berat yang berat itu rindu #terDilan karena saya merasa puas dengan apa yang saya lakukan.

    Beberapa pengalaman-pengalaman membawa saya pada pemahaman bahwa effort kita untuk menghadapi dreadful things yang matters. Stumbling around figuring things out. Semoga saya selalu ingat pemahaman ini.

  • Told

    Gula dan Teh untuk Mbah Marto

    Mbah Marto adalah tetangga saya yang juga merupakan karib kakek saya. Ia memiliki bengkel vespa langganan kakek saya. Mungkin karena tetangga, mungkin karena vespa, entahlah. Yang saya ingat waktu saya pernah jatuh ke sungai bersama sepeda saya, ya saya ulangi untuk mendramatisir jatuh-ke-sungai-bersama-sepeda haha, kedua karib tersebut yang membantu saya dan sepeda saya sembuh. Kakek saya membantu mengobati luka dan patah hati kaki saya, sementara Mbah Marto entah bagaimana bisa mengembalikan sepeda saya untuk dapat dikendarai. Kebiasaannya yang saya tahu hanya sering terlihat di bengkel atau di teras rumahnya. Ia hanya tersenyum jika saya menyapanya saat melewati rumah/bengkelnya, namun selalu menyapa cukup keras saat saya menyelinap pergi lewat pintu belakang rumah.

    Kemarin kakek saya menertawai saya karena tidak awas membawa kursi roda beliau sehingga menabrak “kecil” dinding dan pintu sembari berkali mengucap “maaf..kung”. Mendengar kabar sore itu saya bingung apakah harus memberi tahu kakek saya meski meski dia mengerti hanya akan membawa duka. Mungkin lebih baik beliau tidak tahu, entah itu langkah yang tepat atau tidak.

    Pagi ini kami membawa gula dan teh melepas kepergiannya. Selamat jalan, Mbah Marto. Terimakasih telah memperbaiki sepeda saya, menyembuhkan vespa-vespa Akung, juga menjadi karib baginya.

  • Sudut Pandang

    Alasan Bertahan Main Instagram

    Intagram adalah salah satu dari ‘mainan’ masakini aka social media/medsos. Kalau saya analogikan social media mungkin seperti genre musik: punya penikmat masing-masing. Sama seperti saat saya coba-coba dengerin Lamb of God yang hanya bertahan beberapa detik (haha gakuat bok dengerinnya), saya juga coba-coba main path, snapchat…yang ujungnya juga saya tinggalkan, kurang cocok rasanya. Bagi yang cocok, medsos bisa menjadi tempat menuangkan kreativitas contohnya pinot dengan filter snapchatnya. Juga yang sedang naik daun yaitu yutuber juga artis instagram. Medsos tidak hanya menjadi “mainan” namun juga dapat generate income. Beberapa saat lalu saya membahas dengan teman saya yang sedang merintis bisnisnya bahwa beberapa influencer memiliki tarif masing-masing sebagai imbal jasa dari promosi produk di medsos mereka.

    Keresahan dalam “bermain medsos” khususnya instagram sering dibahas di beberapa artikel, disindir dalam beberapa twit, juga saya diskusikan dengan beberapa teman. Pada beberapa artikel membahas bahwa instagram membuat orang mengcompare hidup mereka dengan highlight hidup orang lain. Di twitter ramai cuitan yang mengkomparasi “anak instagram” dan “anak twitter”

    Beberapa teman saya juga mengeluh waktunya habis melihat stories orang sehingga end up melakukan detox dengan “puasa instagram” ada juga yang “berani” menghapus account mereka. 

    Saya sendiri juga pernah merasakan keresahan yang sama hingga akhirnya puasa instagram 2 minggu yang akhirnya login lagi haha. Ada beberapa alasan kenapa saya masih suka instagram sehingga belum berniat meninggalkannya antara lain:

    IBU-IBU CHIC

    Ada beberapa “ibu-ibu chic” yang menurut saya sangat inspiratif dan mereka cukup rajin update di instagram. Ibu-ibu chic yang saya maksud adalah: nikeprima, byputy, dan atiit. Masing-masing dari “ibu-ibu chic” tersebut juga memiliki blog/website yang super inspiratif. Nah, saya suka mendapatkan update inspiratif tersebut dari postingan mereka meski versi lengkapnya bisa dicek lebih lanjut di website: livingloving, blogbyputy, blogatit. Juga masih banyak ibu2 chic lainya seperti founder babyloania.

    TOKO & KOMUNITAS

    Ada beberapa toko dan komunitas yang saya suka dan baru saya “kenal” lewat instagram yaitu:

    Kategori kebun dan slowliving: bsp, blueboots, taneuh, farmcanning

    Kategori main kamera: retroika, morninggiantshop, tokopernahbaroe

    Kategori mainan lain (haha): solasidos

    Kategori pertanahliatan: kandura dan semaya

    Komunitas: ukuiki, narasastra dan katajiwa

    Beberapa toko favorit juga kerap update di ig contohnya organicsupply dan thebathbox

    TRAVELER & INFLUENCER

    Tidak dapat dipungkiri bahwa instagram mengenalkan saya pada tempat-tempat baru via traveler2 berikut: kadekarini, dan herjourneys, dkk. Tentunya instagram juga mengenalkan saya dengan sisi lain kehidupan artis yang inspiratif menurut saya (diansastro, evacelia, garance) dengan cara yang berbeda dengan acara gosip atau artikel-artikel yang cenderung opiniated juga dengan orang-orang yang inspiratif di bidang masing2: rarasekar, afutami, founders RG.

    Beberapa teman saya menyatakan mereka berat meninggalkan instagram karena ingin keeping up with others. Jadi bagaimana dengan kamu? apakah kalian masih bertahan karena instagram provide cuteness seperti kelinci atau asian babies? atau kalian malah termasuk yang “berhenti main” instagram karena sudah merasa tidak cocok?

  • Metafora

    Perjalanan Pemahaman Perasaan

    Perjalanan pemahaman saya tentang perasaan sampai pada suatu malam yang penuh ketergesaan yang membawa pada mata itu. Sekelibat tetapi terpatri jelas.
    Malam semakin larut. Jendela pantry yang terbuka membiarkan asap keluar. Diantara denting lift dan langkah yang tergesa, kembali kutemukan mata itu.
    Pagi berikutnya adalah kali pertama perkenalan dengan suaramu. Tidak ada yang spesial, namun ada sesuatu yang membuatnya menarik.
    Pada kesempatan-kesempatan selanjutnya pun aku selalu mencari apa yang sudah aku kenal: mata yang hangat dan suara tenteram. Perjalanan membawaku semakin jauh pada senyuman dan tawa ringan yang jarang terlihat pada keseharian. Perjalanan semakin menarik.
    Namun perjalanan tidak hanya membawaku pada pengalaman yang menyengangkan dan menghangatkan hati. Hingga akhirnya perjalanan mengantarkanku pada pemahaman berikutnya: bahwa aku lah yang selalu merasa hal-hal tersebut spesial. It didn’t mean to be.
    Perjalanan meninggalkanku di persimpangan itu dengan pemahaman perasaan untuknya.
  • Told

    Merasakan Waktu

    Hari ini hari jumat. Kebetulan hari ini hari libur.
    Sudah 4 hari saya tidak merasakan istirahat siang. Hustle and bustle.
    Empat hari berlalu seperti sekejap. Pagi yang tergesa, pulang tengah malam.
    Namun kemarin berbeda. Saya pulang tengah malam untuk bertemu dengan teman-teman saya.
    Typical sleepover. Shared bed, jokes, joy, laughter, romcom and horror movies, burger for breakfast (!!).

    Siang ini saya kembali ke rumah duduk menyeduh kopi susu sembari blogwalking.
    Saya menyadari bahwa hanya beberapa jam bersama teman-teman saya tetapi saya menikmati sekali momen-momen tersebut. Menertawakan satu sama lain, menertawakan hal-hal yang hanya lucu bersama mereka. Tertawa hingga perut melilit.

    Saya teringat dua minggu lalu saat saya pergi ke Bandung bersama teman-teman saya yang lain. Teman-teman yang berbeda namun saya menikmati setiap momen yang terasa damai.

    Minggu lalu saya menyempatkan datang pada suatu pameran bersama teman-teman saya yang lain (lagi). Mengobrol hingga lupa tujuan datang adalah melihat suatu pameran. But we were stumble on a good guide. Dia menjelaskan setiap artwork. Hari yang bermakna.

    Tawa, perasaan damai, dan makna. Saya belajar untuk kembali merasakan waktu.
    Melalui teman. Melalui tempat. Melalui waktu itu sendiri.

    IW: Oh ini yang main di up juga kan yah? (while watching the intern)